Business

Rahasia Ibadah

Dia harus merahasiakannya. Lagi pula, jika ada yang tahu apa yang dia lakukan, itu bisa mahal. Itu akan mengorbankan reputasinya, mata pencahariannya, dan bahkan mungkin nyawanya. Jadi dia melakukan perjalanan di malam hari agar tersembunyi oleh bayang-bayang. Apa yang dia berikan adalah pujian; apa yang dia terima di luar deskripsi.

Ketika kita berpikir tentang penyembahan alkitabiah, kisah baca surat Yasin Nikodemus mungkin tidak ada dalam daftar “perikop paling penting tentang penyembahan” kita. Namun, apa yang kita lihat dalam Nikodemus adalah penyembahan dalam bentuknya yang paling murni.

Pikirkan tentang ibadah kita… kita memiliki pusat ibadah, waktu ibadah, dan pemimpin ibadah. Nikodemus tidak memiliki semua ini. Kami diperlengkapi dengan baik untuk beribadah, tetapi berjuang untuk menjadikannya prioritas. Nikodemus tidak memiliki alat penyembahan, namun ia menyembah dengan cara yang mungkin belum pernah Anda dan saya alami.

Nikodemus memulai dengan pernyataan tentang siapa dia mengenal Yesus dengan mengatakan, “Rabi, kami semua tahu bahwa Anda adalah guru langsung dari Tuhan. Tidak ada yang bisa melakukan semua tindakan menunjuk Tuhan, mengungkapkan Tuhan yang Anda lakukan jika Tuhan tidak. di dalamnya” (Yohanes 3:2, Pesan). Sudah berapa lama sejak Anda membuat pernyataan serupa kepada Tuhan?

Yesus menjawab Nikodemus, “Kamu benar, tetapi kamu tidak akan pernah mengerti apa yang saya bicarakan kecuali kamu dilahirkan kembali” (Yohanes 3:3, parafrase saya). Nikodemus tidak melipat himnenya dan berjalan melewati antrean penerima tamu dan berterima kasih kepada Yesus atas kata-kata-Nya. Tidak, dia menginginkan lebih. Dia harus tahu apa arti “dilahirkan kembali” ini. Dia mulai mengajukan pertanyaan. Awalnya mereka tampak tulus, tetapi kemudian Nikodemus mulai menerapkan penalaran manusia pada hal-hal rohani.

Menyembah Nikodemus tidak mudah. Dia adalah seorang penanya profesional. Namun, Yesus tahu apa yang harus dikatakan. “Anda adalah guru Israel yang disegani dan Anda tidak tahu dasar-dasar ini?… Tidak ada barang bekas di sini, tidak ada desas-desus. Namun alih-alih menghadapi bukti dan menerimanya, Anda menunda-nunda dengan pertanyaan” (Yohanes 3:10 -11, Pesan).

Ibadah yang sejati hanyalah menghadapi bukti dan menerimanya. Mungkin kita tidak menunda-nunda dengan pertanyaan. Bagi kami, masalahnya mungkin kesibukan, kesombongan, atau keduniawian. Ibadah yang sejati berarti kita harus mengesampingkan segala kepura-puraan dan mengakui kuasa Tuhan yang luar biasa dalam hidup kita dan dunia kita. Ibadah bukanlah hidangan pembuka untuk makan malam hari Minggu; itu adalah hidangan utama untuk setiap hari dalam hidup.